Cerita Nana

Bunyi bel istirahat terdengar nyaring suasana sekolah yang tadinya sepi berubah menjadi ricuh, murid kelas 12 IPS 2 satu persatu meninggalkan kelas untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Hanya tertinggal satu orang saja di kelas yaitu Amena Sahestra yang biasa di panggil Nana. Perempuan berkulit sawo matang dengan satu lesung pipinya yang memberikan kesan manis pada wajahnya. Nana lebih memilih membaca buku di kelas daripada harus berjalan  ke kantin, ia sangat tidak suka keramian belum lagi jika bertemu dengan anak anak yang suka membulinya. Nana termasuk murid berprestasi di sekolah sayangnya ia tidak begitu pandai bergaul dengan anak anak lain karena sifatnya yang tertutup menjadikan ia tidak punya teman. Anak anak di kelasnya sering memanggilnya dengan sebutan kutu buku karena ia sering menghabiskan waktunya untuk membaca buku daripada mengobrol dengan teman sekelasnya. Padahal buku yang Nana baca adalah buku Novel bukan buku pelajaran.

Suara salah satu murid perempuan yang memanggil Namanya membuat Nana mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca . Murid itu mengatakan bahwa seseorang menunggunya di taman belakang. Nana menghela napas Panjang ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya. Ia juga sudah tau siapa yang menunggunya itu dia adalah Jihan anak kelas sebelah, entah Nana punya salah apa dengan orang itu yang pasti ia harus menuruti semua kemauan Jihan.

Nana dengan Langkah yang malas mulai menyusuri lorong kelas menuju taman belakang. Langkahnya terhenti saat dua kakak kelasnya itu menghadang Nana dari arah yang berlawanan. Salah satu dari mereka menjambak rambut Nana dan mendorongnya sampai tersungkur di lantai. Tidak hanya itu mereka juga menyiramkan air dan tepung pada ujung kepala Nana, dan itu berhasil membuat Nana basah kuyup. Salah satu dari peremuan itu berkara bahwa ini adalah hadiah ulang taun untuk Sherena dan ancaman buat Nana karena ia selalu menempel dengan Jihan. Sherena yang melihat dari kejauhan pun tertawa puas atas apa yang ia lihat, ia sangat bangga kepada kedua temanya itu. Nana lebih memilih untuk  diam  dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Nana tetap menuju ke taman belakang untuk menemui Jihan, ia tidak memperdulikan seragamnya yang basah dan mukanya yang mulai pucat. Nana membangunkan Jihan yang sedang tidur di rumput taman belakang. Jihan yang tadinya ingin marah karena ia menunggu cukup lama terkejut dan raut wajahnya berubah menjadi panik. Ia menanyai Nana Panjang lebar tentang apa yang terjadi dengan dirinya mukanya yang semakin pucat membuat Jihan tambah panik. Jihan bermaksut memberikan jaketnya kepada Nana agar ia tidak kedinginan tetapi Nana menolak dan mengalihkan perhatian deengan menanyakan apa tujuan Jihan memanggilnya. Jihan juga menawari Nana agar ia mengantarkan pulang Nana. Tetapi Nana juga menolaknya karena ia tidak mau merepotkan siapapun.

Tidak terasa hari sudang mulai gelap, Nana duduk dibalkon kamarnya sambil memandangi langit. Sehabis menemui Jihan di taman belakang tadi Nana memilih membolos kelas daripada harus berurusan dengan teman temannya itu. Walaupun resikonya ia akan di omeli oleh kakaknya. Terdenagar suara ketukan pintu dari arah depan Nana yang tadinya melamun langsung berlari kecil membukakan pintu untuk kakaknya. Nana memeluk erat kakanya seolah ia di tinggal lama oleh kakaknya padahal baru tandi pagi ia bertemu kakanya itu. Kakaknya dengan pelan merenggangkan pelukannya ia menyuruh Nana untuk duduk di kursi ruang tamu.

Na.. kalau ada masalah itu cerita sama kakak kamu udah ga punya siapa siapa siapa selain kakak kamu percaya kan sama kakak.  Kak Bima dengan hati hati menanyai adik semata wayangnya itu pasalnya ia tadi dapat telephone dari sekolah karena Nana tidak mengikuti pelajaran setelah istirahat.

Nana hanya menggelengkan kepalanya ia takut jika ia cerita akan menambah beban kakaknya. Selama ini kakaknya sudah cukup berkorban untuk dirinya. Satu tahun lalu saat Nana dan keluarga mereka ingin pergi berlibur ke pantai sedangkan kakaknya memilih untuk di rumah saja untuk mengerjakan tugas kuliah. Kak Bima sudah mewanti wanti pada saat itu karena ia mempunyai firasat yang buruk karena cucanya juga sedang tidak stablil. Benar saja ditengah tengah perjalanan Hujan turun dengan lebat dan  tiba tiba dari arah berlawanan truk melaju dengan kecepatan yang di luar batas ayah Nana pun panik dan segera menghindari truk tersebut sayangnya mabil yang dikendarai nana mensabrak pembatas dan menyebabkan orangtua Nana terluka parah sedangkan Nana mengalami beberapa patah tulang. Saat di larikan dirumah sakit hanya Nana saja yang dapat di selamatkan. Karena itulah Nana hanya tinggal dengan kakanya. Kakaknya rela berhenti kuliah dan mencari kerja demi memberikan kebutuhan Nana.

Terdengar suara ayam berkokok sangat lantang menandakan hari sudah pagi. Hari ini adalah hari minggu jadi Nana bisa sedikit bangun terlambat. Aroma wangi membuat Nana terbangun dari tidurnya. Nana segera bangkit dari tempat tidur menuju dapur untuk melihat kakanya yang sedang memasak. Kak Bima yang sadar akan kedatangan Nana tersenyum lebar dan segera menyiapkan makanannya.

Saat mereka sedang asik mengobrol terdengar suara montor berhenti di depan rumah, Kak Bima menyuruh Nana mengecek siapa yang datang barangkali ada tamu penting. Mata nana membulat ia tidak percaya bahwah Jihan yang datang ke rumahnya. Padahal di sekolah tidak ada yang tau tentang alamat rumahnya. Jihan dengan santai turun dari montor dan menghampiri Nana, ia memberikan sekantong kresek berisi buah buahan. Nana dengan ekspreksi kebingungan reflek bertanya “siapa yang sakit?”. Kata kata Nana barusan membuat Jihan tertawa renyah. Baru kali ini Nana melihat seorang Jihan tertawa biasanya ia hanya marah marah atau berwajah datar.

Kak Bima menyusul ke depan karena penasaran kenapa Nana tidak segera Kembali makan. Kak Bima agak kaget melihat tamu yang datang adalah teman Nana terlebih lagi ini laki laki, karena yang ia tau selama ini Nana tidak mempunyai teman. Jika hari libur Nana lebih memilih membaca novel atau menonton flm. Kak Bima menyuruh Jihan masuk untuk makan Bersama kebetulan nasi goreng yang ia masak masih tersisa. Jihan dengan wajah riang mengikuti kak Bima dari belakang, sedangkan Nana terlihat pasrah dengan keadaan dan mulai mengikuti mereka berdua. Saat berada di meja makan Kak Bima dan Jihan tidak berhenti mengobrol sampai sampai Nana terkacangi. Nana berdehem memberi isyarat bahwa bukan hanya mereka berdua yang yang ada di ruangan ini. Kak bima dan Jihan saling bertatapan lalu tertawa terbahak bahak. Sudah lama sekali Jihan tidak merasakan sebahagia ini menurut Jihan Nana beruntung mempunyai kakak seperti kak Bima.

Waktu telah menunjukkan pukul 8 siang kak Bima berpamitan kepada Nana dan Jihan. Sebernanya ia agak hawatir meninggalkan mereka berdua di rumah tanpa ada pengawasan dari orang yang lebih dewasa tapi ia sangat percaya kepada adiknya itu. Ia juga sudah mewanti wanti Jihan jika ia tidak boleh macam macam kepada adiknya tersayang itu, jika terjadi sesuatu kepada Nana, Bima tidak tidak akan tinggal diam.

Suasana yang sangat canggung Jihan dan Nana duduk di depan teras sambil menatap langit, tidak ada yang membuka pembicaraan. Banyak pertanyaan yang muncul di otak Nana tetapi mulutnya terkunci, ia takut salah bicara. Jihan dengan nada yang canggung mengajak Nana untuk ketaman komplek sebelah itung itung buat refresing. Awalnya Nana menolak tetapi Jihan bersikeras mengajak Nana jdi mau tidak mau ia harus pergi ketaman.

Jihan menyuruh Nana untuk duduk di kursi taman yang teduh sedang Jihan berlari kecil entah kemana. Nana takut jangan jangan ia dikerjai tetapi ia tetap menunggu di kursi taman. Jihan datang dengan kantong kresek kecil ternyata tadi ia mengejar tukang ice cream. Nana penasaran kenapa tiba tiba Jihan bersifat baik kepadanya. Jihan memberikan Ice cream terse but kepada Nana tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Hari sudah mulai siang, Nana mengajak Jihan pulang sebelum matahari semakin terik. Sesampainya di depan rumah Nana menyuruh Jihan segera pulang dan mengucapkan terimakasih. Jihan menolak ia menyuruh Nana untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu baru ia akan pergi. Nana mulai melangkahkah kan kakinya untuk masuk kedalam rumah namun Langkahnya terhenti ia merasa ada seseorang yang meraih tangannya, orang itu adalah Jihan. Dengan nada yang canggung Jihan mengucapakan maaf kepada Nana, ia sangat menyesal telah memperlakukan Nana seenaknya sendiri padahal hidup Nana saja sudah sulit. Nana hanya mematung tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Jihan. Jika di pikir pikir Jihan juga banyak membantu Nana dengan cara yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.